Cerpen Andaru Intan: Sakit Kiriman (Flores Sastra, 16 Sept 2016)

Barangkali sudah hampir satu tahun, penyakit Nyongket tak kunjung sembuh. Kulitnya tebal-tebal nan merah matang. Kadang menghitam. Kadang gatal, kadang panas, kadang tak rasa apa-apa. Namun yang paling menyakitkan, seringkali datang rasa nyeri yang menujum-nujum. Merasai sakitnya, Nyongket berdiam saja di rumah. Merenung. Menyesal. Mengingat-ingat. Juga was-was, bagaimana kalau-kalau banyak orang tahu tentang penyakit kulitnya yang aneh itu. Pastilah Nyongket malu bertemu orang. Bahkan kekasihnya sendiri tak mau menemuinya lagi. Perempuan berbodi aduhai yang hendak dia pinang beberapa bulan tahu telah memutuskannya dengan paksa. Dulu lengket bak getah nangka, kini tak mau bertegur sapa.“Sudah. Aku sudah putuskan. Kita harus cari motor itu, mengembalikannya pada Udang atau semua dari keluarga kita akan mengidap penyakit kiriman sepertimu, Nyong,” kata Kakaknya setelah menghela napas panjang. Dia lantas bersandar di badan kursi.

“Tapi, motor sudah dijual sejak dulu. Kejadian ini sudah setahun yang lalu. Tak mungkin kita dapat menemukannya. Paman sudah mencarinya hingga ke Ternate dan si pembeli motor itu sudah pindah rumah,” jawab Nyongket sambil melihat ke meja kaca. Terpantul bayangannya yang hampir buruk rupa.

“Aku kasihan padamu, Nyong. Juga takut kalau semua keluarga kita terkena penyakit itu. Bagaimana kalau kita kembalikan sapi saja? Harganya hampir sama.”

“Tak bisa. Sakit kiriman itu hanya akan sembuh kalau barang yang kita curi kita kembalikan…” suara Nyongket bergetar, seperti putus asa.

Mereka berdua menghabiskan sore ini di ruang tamu itu, memakan pisang goreng dan meneguk kopi sembari memikirkan bagaimana caranya menyembuhkan Nyongket dari sakitnya.

**

Nyongket terduduk di kasurnya. Matanya berkaca-kaca. Mengingat sebegitu teganya perempuan yang dicintainya meninggalkannya seperti ini.

Satu tahun yang lalu, perempuannya merengek minta dilamar. Teman-teman seusianya telah banyak menikah. Bahkan sudah banyak yang mempunyai momongan. Dia merajuk bak perempuan yang sudah tak tahan ingin cepat dikawini. Nyongket memang mencintainya. Justru teramat mencintainya, sampai dia rela melakukan apa saja agar perempuannya bahagia. Setelah pertemuan dengannya, Nyongket bicara pada kakaknya. Bahwa mereka ingin cepat kawin. Tapi, Nyongket harus siap uang sepuluh juta untuk mas kawin. Awalnya orang tuanya minta dua puluh juta, tapi perempuannya bilang, cukup sepuluh juta saja, nanti dia bicara pada orang tuanya. Yang penting dia dilamar. Dilamar. Secepatnya.

Tabungan tipis. Kakaknya hanya punya uang puluhan ribu untuk beli rokok saja. Sementara uang yang dipegang Ibu tak boleh diutak-atik. Itu untuk urusan perut sehari-hari. Isi kebun juga begitu-begitu saja. Berkebun sampai bungkuk pun rasa-rasanya hanya menghasilkan uang kopra yang tak seberapa.

Bagaimana kalau kita mencuri motor?

Pertanyaan itu terlontar dari mulut Nyongket. Kakaknya berpikir sejenak. Lantas mengiyakan. Dia tak tega melihat adiknya gusar lantaran tak kawin-kawin itu. Takut kalau-kalau malah menghamili anak gadis orang. Mereka mengatur rencana yang begitu apik. Biasa Udang menutup tokonya pada jam sebelas malam. Dua motornya tidak pernah dia masukkan ke dalam rumah. Hanya di pekarangan tanpa pagar itu. Ambil salah satunya. Motor baru yang platnya masih belum terpasang itu.

Seminggu setelah rencana mereka berhasil dengan lincah tanpa ada satu orang pun yang mengetahui, cepat-cepat motor itu mereka bawa pergi ke Ternate. Dijualnya pada teman si makelar. Tanpa surat-surat. Harganya tentu lebih murah. Tak masalah. Yang penting bisa buat tambahan melamar si perempuan.

Namun setelah kejadian itu, kulit Nyongket tiba-tiba gatal-gatal. Dia bilang pada perempuannya untuk sabar menunggu. Dia sedang sakit gatal-gatal, tak mungkin melamar anak orang sambil garuk-garuk saat acara. Dia meminta perempuannya bersantai. Toh uang sudah terkumpul sepuluh juta. Sebagian dari hasil jual motor curian, sebagian tabungannya, sebagian pinjam-pinjam.

Sebulan kemudian, perempuan menagih lagi. Kapan dilamar?

Lantas Nyongket bilang, sabar sebentar, kulit sedang merah-merah, kali ini memang tidak gatal, tapi tak mungkin melamar anak orang dengan kulit yang merah-merah.

Terlalu sering menunda, perempuannya marah-marah. Malah menuduh Nyongket tak pernah serius dan selalu berbohong. Sampai-sampai dia pun menuduhnya punya perempuan lain. Dengan amarah, dia mendatangi Nyongket. Dia ternganga melihat kekasihnya yang semula gagah menjadi lelaki dengan penampilan yang menakutkan. Kulit merah menebal dan menyeramkan. Dia berlari dari rumah itu dan meninggalkan Nyongket sendirian. Itu adalah terakhir kali Nyongket melihat perempuannya. Sampai sekarang tak ada kabarnya lagi. Dia hanya bilang hubungan telah selesai.

Itulah pengalaman sadis Nyongket yang membuat hatinya teriris. Kini dia tersadar. Tapi, semua sudah terlambat. Motor yang dicurinya itu tak pernah disangkanya berisi guna-guna yang mampu mengirim penyakit pada siapa pun yang mencurinya. Membuat Nyongket berpenyakit kulit dan ditinggal oleh calon istri yang amat dia cintai.

Satu-satunya obat untuk peyakitnya hanyalah mengembalikan motor itu.

“Nyongket, tadi sore Ibu cerita bahwa tetangga kita yang punya sakit kulit seperti kamu itu dulunya mencuri sandal jepit di masjid. Masalahnya, itu sandal jepit hanyut di laut, tak bisa lagi dikembalikan pada pemiliknya. Seumur hidupnya, kakek itu menderita sakit kulit. Dan sekarang sudah meninggal. Aku tidak mau kau bernasib seperti itu. Terkena sakit kiriman.” Kakaknya bicara dengan sangat serius, “Sapi sudah kujual. Nanti malam kita minta maaf pada Udang dan kita berikan sapi sebagai ganti motor yang kita curi. Tak usah malu. Udang pasti mau mencabut sakit kirimannya itu.”

Nyongket berdiam sembari mendengar secercah harapan dari kakaknya untuk kesembuhan sakitnya. Nyongket mengangguk. Di matanya, terlihat harapan yang menyala-nyala.

**

“Tapi saya dan istri saya tidak pernah menaruh guna-guna apapun di motor kami yang hilang, Nyong,” jawab Udang setelah mereka menjelaskan panjang lebar tentang kekhilafan mereka setahun yang lalu.

Udang dan istrinya justru tersenyum saja menanggapinya. Senyum yang terlihat bercahaya. Tanpa dendam. Tanpa rasa tak enak sedikitpun. Mereka sudah ikhlas akan motornya yang hilang. Justru keikhlasan itu yang membawa mereka mendapatkan banyak rejeki dari Tuhan. Sebuah oto merk Avanza telah dibelinya setelah tokonya ramai setahun ini. Nyongket dan kakaknya menunduk saja. Malu sekali. Tadi pun mereka minta maaf sampai menyembah-nyembah. Tapi, Udang dan istrinya justru menyuruh mereka bangun. Mereka menangis-nangis, Udang dan istrinya memberinya kertas-kertas tissue.

Mereka membawakan sebuah sapi sebagai ganti motor yang mereka curi. Sebuah sapi betina gemuk yang sekarang sedang diikatnya di pohon jambu depan rumah Udang. Tapi Udang dan istrinya menolaknya. Malam itu, justru Udang dan istrinya menyuruh Nyongket dan kakaknya kembali ke rumah mereka. Disuruhnya Nyongket menjual sapi itu untuk biaya berobat ke dokter kulit.

Siapa tahu, Nyongket menderita penyakit kusta seperti beberapa tetangganya itu, pikir Udang dan istrinya. (Halmahera Selatan, 2016)

Advertisements

Cerpen Andaru Intan: Kopiah Bapak (Solo Pos, 18 Sept 2016)

14388924_10208755653803136_63402703_nMakin lama, makin banyak tamu ke rumah. Mereka berbondong-bondong membawa keluarganya yang sakit. Bermacam-macam. Ada yang kakinya bengkak sampai seperti kaki gajah, ada yang kemaluannya membesar hingga celananya menonjol bak terisi buah mangga, ada juga yang kulitnya bersisik seperti kulit ular. Tak hanya yang keluarganya sakit, mereka yang sehat wal afiat, ganteng gagah puh ikutan sowan ke rumah. Mereka hanya ingin bertemu Bapak, menyalaminya, lalu melihat kopiah Bapak. Mereka ingin sehat, sembuh dari sakitnya, ingin kebal, ingin panjang umur.

Apalagi di bulan satu Suro, rumah makin ramai di kunjungi tamu. Mereka tidak ingin memandikan pusaka macam keris pada Bapak, tapi lagi-lagi, mereka hanya ingin bertemu Bapak. Ingin melihat kopiah yang Bapak kenakan, yang katanya akan terlihat lebih bersinar setelah dimandikan di malam satu Suro itu.

“Bapak tak mau menerima uang ataupun sembako dari mereka,” kata Bapak saat tahu istriku membawa dua kresek merah berisi gula putih.

Istriku lalu cemberut. Menatapku seperti butuh pembelaan.

Aku meresponnya cepat-cepat. aku sudah terbiasa tak bisa melihat istriku marah. Gara-gara sewaktu muda dulu, bila marah, dia tak pernah mau disentuh, bahkan saat aku lagi butuh. “Pak, Minah cuma menerima teh dan gula pasir. Cuma untuk mengganti suguhan minuman tamu kok..”

“Satu tamu bisa kasih gula satu hingga dua kilo, sehari ada berapa tamu. Apa kau suguhi tamu-tamuku dengan satu stoples gula tiap hari? Jadi, berapa kwintal gula yang bisa kamu jual?” kata Bapak sinis sembari berlalu menuju kamarnya.

“Pak, tapi kita bisa rugi Pak, kalau tak mau terima apa-apa dari tamu..” teriakku yang masih membela istri.

“Jangan suguhi apapun tamu-tamuku, sediakan kendi dan gelas saja di meja biar mereka ambil sendiri. maka kau tak perlu perhitungkan sabun cuci juga..” jawab bapak dari kejauhan dengan suara yang samar-samar tapi masih terdengar.

Aku menatap Minah. Matanya masih melorok. Didekapnya gula plastik pemberian tamu itu erat-erat. Takut aku merebutnya. “Bapakmu tuh jadi orang kelewat baik. Memang aku tak perlu duit apa? Walaupun tak disuguhi apa-apa, tamu itu tetap merugikanku. Rumah jadi kotor, tenagaku habis buat nyapu. Sudah tak apa, tanpa sepengetahuan Bapak tak apa lah aku terima satu-dua kilo gula putih,” jawabnya yang tak mau kalah.

Dia lalu melengos ke dapur, meninggalkan aku yang duduk di ruang tamu. Tiap hari aku ya begini ini. Hanya bisa menghadap TV dengan layar yang sesekali tampak seperti dikerubungi kunang-kunang. Hanya bisa tukang penerima tamu-tamu Bapak.

Begitulah. Aku tak bisa menyebut hal ini suatu keberuntungan. Juga tak bisa menyebutnya malapetaka. Mereka yang datang ke sini memang tamu-tamu Bapak, yang diakui atau tidak, mereka cukup merepotkan kami. Tapi mau di kata apa, mereka memang butuh Bapak. Dari sekian banyak tamu memang ada yang sembuh dari sakitnya, ada juga yang tidak. Tapi masyarakat di luar sana hanya mendengar gaung kesembuhan. Mereka percaya hanya dengan melihat kopiah Bapak mereka akan sehat dan percaya siapapun yang memakai kopiahnya akan hidup selama-lamanya.

Ah, aku sendiri tak percaya. Nyatanya kemarin waktu cucuku sakit demam, Bapak yang menungguinya seharian tak mampu membuat demam cucuku reda. Hingga aku menyerah dan menyetujui anakku yang akan mebawa cucuku ke puskesmas. Dokter bilang cucuku menderita demam berdarah. Dia harus mendapatkan cairan yang cukup lewat selang infus yang ditusuk di pembuluh darahnya.

Seminggu menjalani rawat inap, cucuku jadi sembuh dan sehat kembali. Aku, anakku, dan menantuku percaya sepenuhnya dengan apa yang dikatakan dokter. Tapi Bapak bilang cucuku sehat karena kopiah Bapak.

Entahlah, kopiah Bapak memang susah dimengerti.

Percaya tidak percaya, kopiah Bapak memang bukan kopiah sembarangan. Bapakku juga bukan orang gila, Bapak waras sewaras-warasnya. Bapak bilang, kopiah ini dia dapatkan dari pemberiannya sewaktu menjadi pejuang kemerdekaan dulu. Pak Sudimin bilang kopiah ini telah diisi, ketika kopiah ini di kepalanya,dia bisa kebal dari segala macam ancaman yang hendak mengganggu tubuhnya. Peluru kompeni tidak akan tembus ke daging, peluru itu bisa terpental, atau bila pun melukai kulit, kulit akan segera kembali ke kondisi semula. Parang setajam samurai yang mampu mengiris paku seperti mengiris lidi dan mengiris besi seperti mengiris kayu itu pun tak akan bisa melukai kulit, kalaupun melukai kulit akan segera kembali ke kondisi semula. Tak perlu jauh-jauh dengan senjata, sendi yang sakit karena digerogoti rematik itu akan sembuh saat kopiah ada di kepala. Itulah yang membuat Pak Sudimin menjadi pejuang yang paling dicari Belanda, pejuang yang dipuja orang jawa. Pejuang sakti, katanya.

Kalau Bapak menceritakan kejadian itu, matanya selalu berkaca-kaca. Sebenarnya, Bapak yang bergelar veteran tidak ikut berjuang seperti Pak Sudimin, bapak hanya menyumbang makanan untuk para tentara yang bersembunyi di hutan. Bapak membawakan ubi, jagung godok, nasi, sayur lodeh, minuman, yang ditaruhnya di dalam tobos. Di atasnya ditutupi kelapa dan daun blarak. Saat ada kompeni yang melihat bapak, bapak berpura-pura berjualan kelapa. Pada satu malam yang naas itu, entah kenapa bapak ingin bicara lebih lama dengan Pak Sudimin dan kawan-kawannya. Di tengah mereka makan, tiba-tiba saja banyak suara sepatu berlarian. Bapak bilang mereka adalah cakra -orang pribumi yang mengabdi pada kompeni. Mereka melihat Bapak dan para tentara. Para tentara berlari gesit, sementara Bapak gopoh tak bisa melakukan apa-apa. Sebelum Pak Sudimin menyusul kawan-kawannya, dia memberikan kopiah itu pada bapak.

Pakailah dan bawa sepedamu ke barat. Jangan pulang ke rumahmu selama satu minggu.

Itu adalah wejangan dari Pak Sudimin yang telah berhasil menyelamatkan Bapak dari kejaran para cakra. Hingga Bapak menangis sesenggukan ketika seminggu setelah bapak pulang dia hanya mendengar kabar Pak Sudimin dan kawan-kawan yang tertangkap cakra di daerah timur telah meninggal.

Mulai saat itu Bapak merawat kopiah Pak Sudimin. Kopiah yang telah diisi. Kopiah yang membuatnya sehat hingga usia satu abad lebih. Kopiah yang dinabikan oleh banyak orang saat ini.

*

 

Suara Bapak serak, Bapak batuk-batuk. Aku menawari Bapak untuk berobat ke puskesmas, aku percaya dokter pendatang yang bekerja di puskesmas akan memberinya obat yang tepat seperti saat dia merawat cucuku tempo hari. Tapi, Bapak menolak. Bapak punya kopiah katanya. Dan benar, setelah kopiah dipakainya, Bapak tak lagi batuk-batuk, Bapak kembali bugar, badannya kembali tegak. Bahkan umur bapak yang sudah satu abad tak pernah terlihat saat bapak memakai kopiah itu. Sering kali tamu yang datang mengira Bapak lebih muda dari aku meskipun rambut kami sama-sama putihnya.

Suatu hari, saat aku hanya duduk berdua dengannya di ruang tamu. Saat musim penghujan dan tak ada tamu yang datang. Saat aku dan bapak sama-sama meminum teh pahit. Teh yang dibuat istriku untuk menyinggung Bapak yang terlampau idealis tak mau menerima apapun dari tamunya.

“Pak, sampai kapan Bapak mau pakai kopiah itu terus?”

Bapak mengangkat bahunya. “Mungkin selamanya sampai kopiahnya rusak, hingga lama-lama aku mati sendiri..”

“Pak, bukannya kopiah itu tidak akan rusak sampai kapan pun kalau Bapak mencucinya tiap satu Suro? Lagi pula apa benar itu kopiah bisa mengobati orang? Kopiah bapak cuma ngefek pada bapak saja to?”

“Entahlah, buktinya banyak yang sembuh setelah ke mari.”

“Tapi banyak yang mati juga, Pak. Kita nggak bisa melawan takdir..”

“Jadi, kamu pengin Bapak mati atau pengin kamu juga pakai kopiahnya?”

“Pak, tidak ada secuil pun rasa pengin pakai kopiah itu, Pak. Aku cuma berpikir kalau begini terus, bapak hidup terus, siapa yang akan merawat bapak? Kalau aku dan minah mati? Adik-adik sudah takut tinggal di rumah ini, sudah menuduh bapak macam-macam.. aku cuma menghawatirkan Bapak..”

“Hmmm” Bapak malas menjawab.

“Kalau sampai aku meninggal, kopiah dicuri orang, kopiah Bapak malah disalahgunakan, Pak..”

“Terus maumu apa?” tanyanya yang menbuatku diam.

*

 

Subuh-subuh Bapak berteriak memanggiliku dan Minah. Kopiah bapak hilang. Minah kaget dan tetangga ikut kaget. Bersamaan dengan itu Minah bilang celana dalamnya banyak yang hilang. Bapak lalu menatapku seperti hendak bicara banyak, tapi tak bisa karena Bapak langsung batuk-batuk. Keadaan Bapak menurun drastis. Belum sempat dokter yang kupanggil datang ke rumah. Belum genap sehari kaki Bapak bengkak, bapak sesak, bapak kurus, bapak keriput, kulitnya bergelambir. Bapak nyeri dada. Inalillahiwainailaihirojiun. Bapak meninggal hari itu juga. Walaupun tak ada yang pernah tahu mungkin Bapak sudah meninggal sejak dulu.

Kami yang menunggui bapak dengan membacakan ayat-ayat suci menangis. Kami doakan Bapak dengan niat baiknya mengobati orang-orang dengan kopiah itu diterima di surga. Tamu-tamunya berdatangan melayat. Tapi banyak juga yang mengajakku bicara dan berniat hendak membeli kopiah bapak dengan harga ratusan juta. Aku bilang kopiah itu benar-benar hilang. Lalu mereka pulang dengan kecewa.

Berikutnya muncul kopiah-kopiah palsu milik Bapak. katanya ditemukan di tengah laut, ada yang bilang lagi kopiah itu tiba-tiba jatuh dari atap dan cerita-cerita goib yang sebenarnya hanya penipuan.

Aku mencibir saja mendengar berita itu, tak ada yang tahu bahwa kopiah itu telah kucuri pada saat bapak tertidur lelap, kubungkus dengan celana dalam Minah dan kubakar di belakang rumah. Abunya kubuang di sungai. Aku memang satu-satunya orang kepercayaan Bapak, bahkan aku adalah satu-satunya orang yang diceritainya bagaimana cara menghancurkan kopiahnya. Bapak percaya padaku bahwa aku tak akan membunuhnya dengan menghancurkan kopiahnya. Benar memang. Aku tidak membunuh Bapak. Mana mungkin anak yang sangat disayangi bapaknya membunuh bapaknya sendiri. Mana mungkin. Aku hanya ingin membantu Bapak kembali pada dirinya sendiri. Bapak yang lahir sebagai manusia juga harus meninggal sebagai manusia.

***

Cerpen Andaru Intan: Di antara Pistol dan Kepalan Tangan (Malut Post, 3 Sept 2016)

Cerpen Andaru Intan

Di antara Pistol dan Kepalan Tangan

Sejujurnya aku tidak pernah mengerti dengan apa yang dia bicarakan di depan. Saat dia memegang pengeras suara dan mengepalkan tangan, yang kudapati hanyalah kekaguman. Perkara syair-syair atau sebuah orasi tentang kebijakan kepala daerah yang ditentang mahasiswa, aku tak paham. Sama sekali tak paham. Tanyakan padaku siapa lelaki yang bicara di tengah itu, maka aku akan menjawabnya dengan lantang. Bukan saja tentang nama, tapi juga tanggal lahirnya, kue kesukaannya, warna favoritnya, sampai kebiasaan buruknya seperti tak mau mencukur rambut, sebelum aku merajuk seharian.

Sejak dulu, memang belum pernah kutemukan lelaki seunik dia. Aku sangat tertarik padanya melebihi siapapun. Seseorang yang memiliki kekurangan dan kelebihan yang selengkapnya bisa kuterima. Di satu saat dia bisa tampil berani dan garang, namun di satu sisi dia bisa lembut dan sangat peduli. Jangankan peduli padaku, bahkan pada anak-anak beringus di pinggiran pasar pun tak pernah luput dari kepeduliannya.

Aku mengenalnya sejak tahun pertama aku menginjak masa perkuliahan. Aku menjadi teman dekat yang tak pernah menolak ajakannya ke mana saja. Bahkan pada kegiatan-kegiatan yang sebelumnya tak pernah aku sukai, seperti mengajar anak-anak pinggiran pasar.

Aku lah perempuan yang sering datang membawakannya sebungkus makanan. Karena aku tahu dia sering tak mempedulikan isi perutnya sementara dia selalu memastikan tak ada murid-murid kecilnya yang kelaparan. Saat dia tak enak badan, aku sering meneleponnya hanya untuk memastikan dia beristirahat dengan nyaman di kamar kostnya. Aku tak mau hal yang bulan lalu terjadi akan terjadi lagi. Saat dia sakit dan dia memaksakan diri untuk tetap mengajar anak-anak didiknya yang hendak ujian. Bahkan, aku yang tak suka dan tak pandai mengajar, saat itu mau menggantikannya beberapa waktu hingga dia sembuh total. Dia memang sering terlalu sibuk mempedulikan orang lain hingga tak mempedulikan dirinya sendiri. Kebiasaan baik yang telah menjadi buruk di mataku.

Dari lokasi dudukku, aku memincingkan mata untuk menghindari silau terik matahari sambil terus menatapnya. Dia menyelesaikan orasinya dengan lancar dan tentu saja, bagiku penuh pesona. Lantas dia mengoper pengeras suaranya pada teman di sebelahnya. Dia menyeka keringat di dahinya lalu menyapukann pandangannya ke arah kami yang duduk berjajar melingkarinya. Dan seketika, saat kedua mata kami berpapasan di udara, dia langsung melangkahkan kakinya ke arahku.

“Kau masih di sini? Aku suruh Edo mengantarmu pulang ya?” tanyanya sambil berjongkok. Beberapa anak di sebelahku melihat kami. Sehingga kami keluar dari barisan. Menepi sejenak ke bawah pohon rindang.

“Aku mau menunggumu sampai selesai,” kataku sedikit cemberut. Tentu saja, aku dapat mengerti apa akhir dari perdebatan kami. Dia selalu berhasil membuatku menurut padanya.

“Aku tak enak pada kakakmu,” jawabnya singkat.

“Aku sudah besar dan aku sudah bisa menentukan pilihanku sendiri. Aku mau tetap di sini dan akan pulang sama kamu, setelah acara selesai,” kataku memaksa.

Dia memutar bola matanya lantas segera berlari menuju tempatnya semula. Syukurlah, rekannya memanggilnya sebelum dia berhasil memenangkan perdebatan denganku. Aku pun merunduk-runduk memasuki tempat dudukku semula.

**

Sejak kejadian itu, kakakku marah besar. Siang itu dia telah melihatku ikut mengikuti aksi dengan Rio. Kakakku sekarang tak pernah membiarkanku naik ojek sendirian ke kampus, apalagi membiarkanku diantar-jemput oleh Rio. Dengan motornya sendiri dia mengantarkanku. Bahkan dia rela berangkat lebih awal untuk mengantarkanku dan ijin pada atasannya untuk menjemputku.

Semenjak ayah meninggal, kakak memang menggantikan posisinya. Bahkan menurutku terlalu posesif. Dia sering melarangku melakukan banyak hal seperti pulang malam atau berkemah dengan teman-temanku ke puncak. Bahkan untuk pergi mengunjungi beberapa pulau di sekitar saja aku harus memohon-mohon beberapa hari. Kakak adalah orang yang tidak pernah mau aku terluka sedikit pun. Dia bahkan pernah mengajakku ke IGD rumah sakit hanya karena aku demam menggigil tengah malam. Dia takut aku terkena malaria atau penyakit yang menakutkan.

Sebenarnya, aku senang dia menyayangiku, tapi yang aku takutkan adalah dia terlalu menyayangiku sampai-sampai tak memberikan ruang bagi lelaki lain untuk menyayangiku juga. Seperti Rio yang dibencinya hingga sekarang.

Aku tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua. Dua lelaki yang sangat aku sayangi tak pernah bisa akur. Sesekali aku lihat Rio mencoba mendekatkan batas di antara keduanya, dia mengetuk rumahku dengan sopan, dan bertamu di malam minggu. Tapi, kakakku tak menghiraukannya. Justru aku melihat penolakan di wajahnya.

Aku hanya tahu, Rio pernah bilang padaku bahwa kakakku pernah menangkapnya sewaktu dia menjalani aksi pertama bersama kakak kelas di awal perkuliahannya. Dan kakakku pernah bilang padaku, Rio bukanlah calon pendamping yang baik untukku. Dia memiliki jiwa pemberontak yang sangat bertentangan dengannya. Satu jiwa yang justru aku lihat sebagai seorang pemberani.

Kali ini, setelah kami selesai makan dia memarahiku, bahkan dia menggebrak meja satu kali. Sungguh, aku takut sekali waktu itu. Mengapa kakakku marah sebegitunya hanya karena kejadian tadi siang. Aku tak mengerti.

“Sudah berapa kali kakak bilang, jangan ikut demo-demo tidak jelas macam itu! Dengar?”

Aku menunduk.

“Kau mahasiswa tugasnya cuma belajar. Sejak kamu kenal sama Rio, kamu memang jadi pembangkang. Kau tahu, kakak ini bekerja cuma buat kamu. Biar kamu bisa lulus dan mendapat kehidupan yang lebih baik. Tiap hari yang ada di pikiran kakak, hanya bagaimana caranya kakak dapat menabung untuk membiayai semua kebutuhanmu. Setiap waktu kakak menceritakan pada semua orang bahwa kakak punya adik yang manis dan pintar yang sedang kuliah di universitas terbaik di sini. Dan apa yang terjadi? Kakak justru lihat kamu ikut-ikut demo.”

Aku menunduk lagi. Entah mengapa hatiku sangat sakit. Aku membayangkan tiap kalimat yang diucapkannya. Betapa dia sangat kecewa padaku. Dianggapnya turun aksi adalah sesuatu yang sangat nista. Dianggapnya aku telah berubah menjadi Rio.

Aku mencoba menenangkannya, “Kak, aku cuma ikut saja. Nilaiku tetap bagus, kok.”

“Kakak tidak peduli. Yang penting kakak tidak mau melihatmu melakukannya lagi. Sekalipun hanya memegang bendera. Sekalipun hanya duduk mendengarkan. Kakak tidak mau lagi melihatmu demo di mana pun! Kakak malu!” ucapnya sambil berlalu ke ruang televisi.

Aku memasuki kamar dan menangis. Hatiku terasa sakit bukan bukan karena aku dilarangnya aksi atau bertemu dengan Rio lagi. Aku toh tetap dapat bertemu Rio di saat jam-jam kuliah. Tapi, tangisku ini karena kakakku sudah mulai berubah. Dia membentakku dengan keras seperti lupa hanya aku yang dia punya sekarang. Seperti lupa bahwa aku adalah adik kecil yang selalu disayanginya.

**

Aku telah berdamai dengan kakak. Aku menuruti maunya. Mengenai pertemuanku bersama Rio, aku sudah cukup senang bisa menemaninya makan siang di kantin dan mendengarkan cerita-cerita serunya tentang pergerakan kampus. Terus terang, di saat kakakku bilang bahwa Rio bukanlah pendamping yang baik, aku justru amat tersanjung menjadi kekasihnya. Memiliki kekasih seorang aktivis kampus bagiku sangat seru dan menyenangkan. Dengan segala kekritisan yang dia miliki, aku percaya Rio akan menjadi orang besar suatu hari dan aku lah seorang perempuan yang beruntung bisa menemaninya menuju ke sanimg_2778a. Namun, percayalah, aku bertahan dengan Rio dengan segala yang terjadi antara aku dan kakakku ini bukan karena aku percaya Rio akan sukses di kemudian hari. Tapi, memang aku bahagia saat bersama dia. Dan aku tahu, Rio selalu merasakan hal yang sama.

Aksinya kali ini sedikit membuatku gusar. Aku tahu, dia berhasil mengerahkan semua mahasiswa dan beberapa elemen masyarakat untuk membuat aksi besar-besaran tentang penyelewengan dana yang dilakukan oleh kepala daerah kami karena aksi-aksi sebelumnya tidak pernah berhasil. Dari pagi hingga sore mereka tidak berhenti. Seharusnya aku berada di rumah saat ini, menuruti keinginan kakakku untuk tidak lagi ikut campur dengan segala bentuk gerakan mahasiswa. Aku memang menurutinya, namun berita dari teman-teman bahwa aksi kali ini berjalan ricuh dan tak terkendali membuatku segera pergi ke lokasi.

Dua kelompok sedang beradu fisik. Antara mahasiswa yang mengepalkan tangan dan para pasukan berseragam yang membawa senjata. Aku tahu Rio dan kakakku berada di antaranya. Kertas-kertas poster berserakan. Kayu dan batu ada di jalan. Aku tidak tahu apa yang terjadi barusan, namun pikiranku hanya tertuju pada mereka berdua.

Seakan aku tak peduli dengan lemparan benda atau bahkan peluru nyasar, aku melewati kerumunan hingga mendapati Rio sedang berhadapan dengan kakakku di seberang. Aku berdiri di antara Rio yang mengepalkan tangan dan kakakku yang menyodorkan pistolnya. Aku betul-betul tak mempedulikann apa yang terjadi saat itu hingga kepalaku terasa sangat berat setelah aku terkena hantaman benda keras.

Saat itu aku hanya berharap, apa pun yang terjadi di antara kelompok mereka, setidaknya mereka masih mengingat bahwa keduanya sama-sama manusia. Tak ada yang layak mati hanya karena bersuara. Tak ada yang layak terluka hanya karena mengamankan satu acara. Aku punya harapan tinggi agar mereka mengerti bahwa tiap orang masih memiliki keluarga yang menunggu mereka pulang, setinggi harapanku agar segala bentuk kekerasan akan segera berakhir.

Mataku pun semakin gelap. Namun, masih dapat kudengar suara dua lelaki yang mencintaiku memanggil-manggil namaku. Juga masih dapat kubayangkan di suatu hari nanti, aku dapat mendengar suara Rio yang mengucap janji sakralnya untukku, sementara kakakku duduk menghadap kami sebagai wali. (Halmahera Selatan, 2016)

Cerpen: Sebuah Janji (Malut Post, 20 Agustus 2016)

Kami pernah duduk beradu punggung di pinggir pelabuhan, menunggu sirine kapal yang melengking tajam di telinga. Tak peduli betapa banyak penumpang yang mulai riuh memasuki kapal, kami berdua hanya berjalan pelan seperti tak ingin semua ini terlewati dengan cepat. Sebelum kakiku menyentuh lantai kapal, matanya yang sayu menatapku. Dia bilang, aku harus pulang pada waktu dan tempat yang kami janjikan. Aku menjawab iya. Sebagaimana yang aku inginkan. Aku akan pulang empat tahun lagi setelah kuliahku selesai. Aku akan meminangnya dan kuharap kisah kami akan berakhir bahagia seperti dalam kisah-kisah dongeng yang sering kami dengar.

Malam itu, tak kuhiraukan sedikit pun yang terlihat di dalam kapal. Orang-orang berlalu lalang membawa barang bawaan, anak kecil berteriak kegerahan, para ibu bercakap dengan penumpang sebelahnya, dan satu-dua remaja bersendagurau bertukar nomor HP. Aku acuh tak acuh. Yang kupedulikan hanya seorang perempuan yang berdiri melipat lengannya di sana. Seorang perempuan yang memandangiku di dalam kapal yang mulai berlayar.

Dari lubang jendela kulambaikan tanganku padanya. Kuakui sangat pedih rasanya meninggalkan dia untuk sementara. Dalam hati, aku menangis. Tapi, kutampakkan senyum lebar padanya. Aku ingin dia melihatku sebagai lelaki yang tegar. Aku juga ingin dia mengingat wajahku terakhir kali seperti wajah kekasihnya yang bahagia.

**

“Kau serius akan kuliah di Jawa?” tanyanya padaku di satu sore ketika aku bermain ke rumahnya.

Aku mengangguk.

Aku tahu dia ketakutan, tapi dia mencoba menyimpan perasaannya itu. Dia lantas memundurkan badannya ke punggung kursi. Disibakkannya sebagian rambut yang terkulai di pipinya ke belakang telinga. “Baguslah. Aku dengar pendidikan di Jawa memang lebih baik.”

“Kau bagaimana?” aku menimpalinya dengan pertanyaan.

Sejak kami memasuki SMA, dia tak pernah sekalipun menyinggung rencana kuliahnya. Sepertinya, urusan ekonomi menjadi momok utama bagi keluarganya untuk menyekolahkannya ke perguruan tinggi. Sebetulnya orangtuaku dan orangtuanya sama. Hanya saja, orangtuaku tidak memiliki tanggungan selain aku untuk disekolahkan. Sementara, orangtuanya masih memiliki tiga adiknya yang pastinya masih butuh banyak biaya.

“Yah… aku tidak melanjutkan sekolah lagi. Aku akan membantu orangtuaku bertani kopra,”

Saat mendengar kalimatnya itu wajahku jadi murung. Aku tahu dia anak yang pintar dan sudah pasti cerdas dibanding teman-teman yang lain. Dia bahkan selalu mendapat peringkat di kelas. Pasti sangat tak nyaman untuk menerima kenyataan bahwa dia tak bisa lanjut mengenyam pendidikan.

“Dan kalau orangtuaku ada modal, aku bisa membuka kios kecil-kecilan di depan rumah,” ucapnya lagi sembari tersenyum.

Terlihat sekali senyum itu adalah topeng yang dia kenakan agar kesedihannya tak tertangkap olehku. Tampak jelas di mataku bahwa kekasihku sedang bersedih. Bukan hanya sebentar lagi aku meninggalkannya jauh, tapi juga karena cita-citanya mesti terputus sampai di sini. Aku bersumpah, andaikan aku punya uang, aku pasti menyekolahkannya. Tapi apalah diriku ini? Aku hanya anak pemilik toko kelontong dengan orang-tua yang tak pernah lelah bekerja. Yang sepanjang hidupnya mereka habiskan untuk menabung uang sekolahku. Ketika kudengar orangtuaku akan menguliahkanku, aku sudah sangat bersyukur.

“Baiklah.  Jangan khawatir. Nanti aku akan selalu mengabarimu. Di sana, aku tinggal di rumah kakekku. Tempat tinggal dan makanku sudah pasti terjamin,”

Dia masih diam. Tersenyum kecil seperti memikirkan sesuatu lantas menggeleng.

“Kenapa?” tanyaku.

“Entahlah. Aku membayangkan kau akan jatuh cinta dengan teman kuliahmu. Perempuan jawa yang berkulit kuning langsat, berambut lurus, dan bicaranya lemah lembut.”

Aku mengerutkan dahi. Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu. Aku bukanlah lelaki yang begitu dan seharusnya dia percaya aku tak akan pernah menjadi seperti itu.

“Kau bicara apa? Tidak mungkin. Aku sudah berjanji padamu untuk pulang setelah selesai kuliah. Dan aku akan meminangmu. Aku berjanji.”

Dia tersenyum lagi dan mengangguk. Aku tahu pandangannya menyimpan banyak keraguan. Apakah empat tahun lagi aku masih seperti kekasihnya yang dulu? Yang suka mengetuk pintu rumahnya dan menghampirinya untuk berangkat ke sekolah. Yang suka melarangnya minum es cukur di siang hari. Yang mendadak suka mengomel ketika mendengar dia sakit. Atau aku justru pulang bersama gadis lain seperti yang baru saja dia bayangkan.

“Tugasmu hanya satu. Teruslah menungguku. Ya?” pintaku padanya sekaligus menutup perbincangan kami sore itu.

IMG_2678

Di awal-awal perkuliahan, seperti dugaanku, aku sering merindukannya. Saat aku menelepon orangtuaku seminggu sekali, aku bahkan meneleponnya tiap malam, meski hanya sebentar. Aku bahagia hanya dengan mendengar suaranya yang ceria waktu menceritakan kesehariannya. Detik-detik itu, aku dapat membayangkan kekasihku yang bicara di seberang telepon masih secantik dulu.

Aku ceritakan padanya tentang hari-hari baruku di Jogjakarta. Mengenai ikan yang jarang kutemukan di sini, makanan di angkringan yang mengenyangkan perut hanya dengan uang yang tak lebih dari sepuluh ribu, teman-temanku yang sering meledek gaya bahasaku, hingga mengenai kegiatan ekstrakurikuler yang akan aku ikuti. Mulanya, kudengar dia cukup antusias menanggapi. Namun, ketika sampai pada ceritaku tentang perkuliahan, dapat kurasakan dia berubah dingin seperti es. Aku tidak mempermasalahkannya. Barangkali dia memang tidak mengerti mengenai itu. Dan kalau sudah begitu, aku mengganti topik pembicaraan kami mengenai kabar di kampung. Aku sering menanyakan kabar orangtuaku dan kios kecil kami.  Aku juga bertanya tentang kabar orangtuanya, tiga adiknya, juga kabar teman-teman kami. Dia bercertia bahwa orangtuaku baik-baik saja, tetap ramah seperti dulu dan kios pun masih ramai seperti dulu. Keluarganya juga baik, hanya saja ayahnya mulai menderita darah tinggi sehingga akhir-akhir ini dia jadi rajin mengantarkan ayahnya memeriksakan tekanan darahnya. Sedangkan kabar tentang teman-temanku didominasi oleh pernikahan. Satu persatu dari mereka telah menikah, satu persatu dari mereka telah menimang momongan.

“Aku ingin kuliahku segera selesai agar kita berdua bisa menyusul mereka,” kataku padanya.

Dia mesti tahu bahwa aku serius dan itu bukan sebatas rayuan. Itu adalah keinginanku dari lubuk hati yang paling dalam. Dia memang cinta pertamaku dan sampai sekarang perasaan itu tak berubah. Meski jarak memisahkan kami sebegitu jauhnya.

Namun, dari bibirnya, aku mendengar respons yang tak kuharapkan, “Aku tidak pantas untukmu. Kamu akan menjadi sarjana dan aku hanya anak dari penjaga toko. Lagipula, tidakkah kau bertemu dengan salah satu teman kuliah yang menarik perhatianmu dan…?”

Secepat mungkin aku memotong kalimatnya sebelum malaikat mengamininya. Aku tak pernah ingin itu terjadi dan aku yakin itu tak akan pernah terjadi.

“Tidak, jangan berpikir macam-macam, aku akan memenuhi janjiku. Aku akan pulang di akhir tahun ke empat dan meminangmu,” tegasku padanya untuk kali sekian.

**

Tahun demi tahun berlanjut begitu saja. Tak kudengar kabar dari teman-temanku bahwa dia tidak setia. Seperti apa yang kuduga, dia memang kekasih yang tidak akan pernah menghianatiku. Aku percaya dia setia dan menungguku. Dan betul apa yang aku yakini, sampai pada tahun keempat, dia masih seperti dulu.

Namun, ada cerita berbeda ketika aku memberi kabar padanya bahwa aku menunda kepulanganku. Aku mendapat masalah dalam masa studiku. Dosen tak kunjung memperlancar skripsi yang kubuat. Berkali-kali aku mengerjakan revisi dan masih tak sesuai dengan maunya. Saat kubilang tunggulah aku setengah tahun lagi, kudengar suaranya bersedih. Sejak saat itu, dia mulai jarang membalas SMS maupun mengangkat teleponku. Kadang nomornya justru tidak dapat dihubungi. Aku seperti kehilangan dia, namun rasa percayaku padanya tidak hilang begitu saja.

Setengah tahun berlalu, aku makin pusing dengan skripsi yang juga belum selesai. Sesungguhnya aku malu hati bila memintanya menunggu setengah tahun lagi, namun saat itu, tak ada lagi yang dapat kulakukan. Aku harus mengatakannya. Dan saat mendengar kabar dariku, bukannya dia menyemangatiku, dia malah menyerah dengan hubungan kami. Dia memutuskanku dan memintaku untuk mencari jodoh teman kuliahku. Aku tidak menyerah begitu saja. Aku bilang padanya untuk tetap menungguku karena meski terlambat aku akan memenuhi janjiku untuk menikahinya. Namun aku tak mendapat kabar darinya lagi, kecuali berita yang menyakitkan beberapa bulan kemudian.

Hari ini, lima tahun sudah aku meninggalkan kampung kami. Aku pulang membawa selembar ijazah dan sebuah harapan bahwa aku masih dapat memenuhi janjiku untuk meminang perempuan yang aku cintai. Namun, seperti yang orangtuaku bilang di telepon beberapa pekan lalu, janjiku memang tak pernah bisa kutepati. Perempuan yang kucintai telah resmi menjadi istri seorang pengepul kopra dari Makasar beberapa bulan lalu.

Hatiku seperti teriris. Kalau aku boleh jujur. Selama ini, begitu banyak perempuan yang berlalu-lalang di depanku dan barangkali begitu terbuka hatinya untuk kudatangi. Tapi tak satu pun dari mereka yeng membuatku tertarik. Tak satu pun dari mereka yang aku dekati. Perasaanku sudah terisi penuh olehnya. Kalau boleh jujur, tiap kali aku ingin menyerah dengan skripsi yang memusingkan kepala, aku selalu mengingat dia di kampung. Dan hanya dengan itu aku kembali berdiri.

Namun, hari ini aku mendapatkan jawaban atas janjiku tak tak sempat kulakukan. Aku tak tahu aku harus bersedih atau bahagia atas perasaan yang kualami ketika aku melihat dia terseyum sambil mengelus perutnya yang membesar itu.

Dari seberang jalan, aku dapat melihat dia duduk di dalam sebuah toko besar. Di samping karung-karung kopra yang menunggu untuk ditimbang dan di samping seorang pria tua pendatang yang merangkulnya dengan sangat mesra.

Aku menyadari sepenuhnya bahwa kenyataan akan tetap berjalan sebagai kenyataan. Tak ada lagi yang dapat kulakukan kecuali menjalaninya. Kekasih yang aku cintai sepenuh hati tak lagi bisa menunggu sebuah janji yang belum kutepati.

Aku berkata pada diriku sendiri. Mengapa aku bersedih? Bila benar aku mencintanya, bukankan memang ini yang aku harapkan? Melihat dia bahagia. Entah bersamaku atau bersama pria lain yang mencintainya.

*Penulis adalah dokter PTT di Halmahera Selatan. Beberapa bukunya telah terbit dalam bentuk novel dan salah satu buku kumpulan cerpennya pernah menjuarai lomba Unsa Book Award 2013.

Kepala Tanpa Tubuh di Belakang Rumah

Banyuwangi, 10 Februari, 1980.

Puasa. Orang jawa punya banyak kebiasaan berbau spiritual untuk menguatkan jiwanya melalui puasa. Banyak puasa yang dikenal, mulai dari puasa senin kamis seperti sunnah Rosul, puasa weton, mutih, pati geni, dan lain-lain yang tak ada dalam syariat islam. Tapi, ini tentang adat dan tradisi. Maka, Bapak sering menyuruhku berpuasa. Katanya untuk menguatkan jiwa, entah apa maksudnya.

Sekuatmu puasanya, diniati untuk tirakat saja intinya, harus tulus tak boleh punya tujuan neko-neko apalagi pikiran jahat, gitu katanya.

Nah dari kebiasaan itu, aku jadi sering berpuasa. Waktu itu aku masih SD, jadi belum punya jadwal periodik tamu bulanan yang bisa buatku beralasan tidak puasa. Selain puasa Senin-Kamis, aku pernah mencoba puasa mutih, hanya makan nasi dan minum air putih saja. Kata Bapak puasa mutih yang dilakukan dengan tulus dan bertujuan dekat dengan-Nya bisa membantu menyehatkan fisik dan jiwa, bahkan bisa meningkatkan spiritual. Tapi efeknya, mereka akan lebih sensitif pada energi-energi gaib.

Awalnya aku hanya puasa sehari. Karena kata bapak kalau aku kuat aku boleh meneruskan puasa. Maka hari kedua dan ketiga pun aku berpasa. Hanya sahur dan buka dengan air putih dan nasi putih. Dan mungkin karena kurang gula, aku jadi sering nggliyeng, tubuhku sempat lemas di hari ketiga.

Malam itu, aku memutuskan tidak puasa lagi. Maghrib-maghrib, selepas sembahyang, perutku mulas bukan main. Aku hanya minum teh hangat dan bergegas ke WC. WC masih terpisah dengan rumahku. Aku harus berjalan ke halaman belakang rumah sekitar 15 meter. Gelap sekali waktu itu, aku hanya membawa senter yang batrenya sudah mau habis. Remang-remang. Sedangkan di WC hanya ada lampu neon ukuran 5 watt, cukup untuk menyinari WC sempit, cukup untuk bisa melihat gayung dan bak mandi. Itu saja.

Tapi.. ada yang aneh rasanya. Lima menit berlalu, seperti ada sepasang mata yang mengawasiku dari angin-angin WC. Aku sengaja tak mau melihat, kuteruskan saja buang hajat. Adakalanya pura-pura tak tahu membuat kita merasa aman. Tapi, setelah semuanya selesai, sebelum aku berjalan menuju rumah kusempatkan melirik angin-angin meski takut-takut.

“Astaghfirullahaladzim,”

Benar, aku diawasi. Sepasang mata itu melihatku tajam, giginya meringis seperti kesakitan. Seperti tercekik. Wajahnya pucat kebiruan. Berkerut seperti mayat. Setelah mataku tercekat beberapa detik, aku baru sadar yang kulihat hanya kepala yang menggantung di angin-angin. Hanya kepala tanpa tubuh. Nyata dan begitu jelas. Tak berdarah-darah. Hanya kepala yang menggantung. Napasku tersengal-sengal. Segera aku berlari, dan sekali aku melihat ke belakang, kepala tanpa tubuh itu makin jelas seperti ikut berlari mendekatiku. Masih dengan raut yang sama.. menatap tajam dan meringis..

“Pak, orang itu seperti kesakitan dan ingin ngomong sama aku, Pak. Dia itu begitu mirip sama Mbah Mi. Kupikir dia Mbah Mi. Hanya saja dia lelaki dan terkesan lebih tua, Pak. Aduh seram sekali..” ceritaku pada Bapak.

Bapak hanya menenangkan. Lalu mulai saat itu Bapak melarangku puasa mutih lagi. Puasa Senin-Kamis saja, sepertinya kamu nggak kuat puasa mutih, katanya.

Banyuwangi, April, 1994.

Liburan semester akhir. Aku bercerita pada Bapak mengenai skripsiku seputar Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia. Meskipun Bapak hanya seorang petani dan lulusan SMP jaman itu, tapi bapak selalu nonton TV dan langganan koran. Pengetahuan bapak boleh lah diadu dengan mahasiswa jaman sekarang, seperti aku. Jadi selalu nyambung waktu bicara sama Bapak.

“Pembantaian PKI waktu itu sepertinya bisa dibilang pelanggaran HAM berat.. Banyak orang tak bersalah jadi korbannya. Bahkan sampai sekarang, anak-cucu mereka masih juga diperlakukan tak adil. Sering kan kita dengar, kalau anak/cucu PKI tak boleh daftar ABRI? Entah itu bener atau nggak.”

Aku mengangguk-angguk. Mencoba menjadi pendengar yang baik.

“Meski kita nggak bisa apa-apa, paling ndak kita sering berdoa untuk para korban politik waktu itu. Mengenaskan sekali kalau ingat. Masa-masa itu banyak meninggalkan luka. Bahkan, tetangga kita, Pak Pujo, dulu kan meninggal gantung diri hanya karena ketakutan melihat teman-temannya dibantai..”

Wah, bener Bapak bilang. Aku sering mendengar cerita suram itu, para orang yang terlibat PKI diseret dari rumahnya, dikumpulkan di pos kamling samping rumahku dan dibantai habis-habisan. Saat memotong tubuh mereka, dari rumah sini suaranya terdengar seperti orang memotong tewel (nangka muda), kata nenek buyutku dulu. Ih, seram bukan main.

“Pak Pujo itu siapa, Pak?” tanyaku yang belum pernah mendengar mengenai beritanya.

“Oh ya.. Tetangga belakang rumah. Kamu manggilnya Mbah harusnya. Dia mas-nya Mbah Mi, kamu nggak kenal. Sudah meninggal lama, gantung diri. Orangnya baik, dia mirip banget sama Mbah Mi..”

Mendengar kalimat Bapak, bayangan lelaki yang menatap tajam dan meringis di WC itu tergambar jelas. Wajah yang sengsara, seperti menuntut keadilan, seperti tersiksa. Dia seperti hendak mengatakan banyak hal, seperti ingin memberitahu aku tentang rahasia.

Ah, entah lah. Saat itu aku segera tidur agar bisa bangun dan sahur nasi putih dan air putih lagi. Siapa tahu nanti malam di belakang rumah, aku bica bicara banyak dengan kepala tanpa tubuh yang dulu sempat membuatku ketakutan..

bedaagama

Bagaimana aku bisa tidak menghargai (apa lagi mengafirkan) orang yang tidak sesuai dengan keimananku?

Sementara, aku terlahir dari salah satu rahimnya. Juga dialah orang yang pertama kali mengenalkanku pada Tuhan dan mengajariku banyak hal tentang kebaikan. Dialah yang membuatkan makan sahurku tiap bulan suci datang, dia lah yang mengingatkanku pada saljadah bila panggilan Tuhan berkumandang, dan dia lah yang memintaku selalu menyebut asma-Nya di mana pun aku berada.

Lagipula seharusnya (tanpa perlu menjadi aku) kita bisa paham.. bahwa yang baik itu tak selamanya harus sama dengan kita kan? Lalu buat apa kita berpusing kepala dengan cara kita mengenal Tuhan..